![]() |
1. Menurut saya pribadi berbisnis itu sangat penting, karena dengan berbisnis kita dapat mendatangkan sebuah keuntungan atau laba. Dengan berbisnis juga kita bisa menciptakan sebuah lapangan pekerjaan bagi orang lain, dan kita juga bisa membantu perekonomian negara kita supaya menjadi lebih baik lagi dengan sistem pajak yang dibayarkan.
Dalam berbisnis juga kita harus bisa menciptakan sebuah produk yang unggul agar produk yang kita produksi (Produk Lokal) tidak kalah saing dengan Produk Luar (Import). Dan dalam berbisnis selain memerhatikan kualitas produk yang akan kita pasarkan, kita juga harus meningkatkan pemasaran kita. Supaya para konsumen tertarik dengan apa yang kita jual sehingga bisa menghasil keuntungan atau laba yang lebih banyak.
Berbisnis juga merupakan sebuah kegiatan yang positif, dimana dalam berbisnis kita harus menjadi orang yang bisa memanage waktu, produktif, disiplin, kerja keras, kreativitas, ketekunan dan sabar. Berbisnis juga bisa meningkatkan kesejahteraan dan kemakmuran bagi banyak orang dan diri kita sendiri sebagai pemilik bisnis tersebut.
Dengan kita memiliki bisnis sendiri kita juga bisa membuat peraturan perusahaan kita sendiri, jadi selain memberi keuntungan dan nilai tambah pada diri kita, keuntungan lain dari berbisnis juga bisa membuat kita memiliki waktu luang untuk bersenang-senang.
Dalam berbisnis juga kita harus memiliki etika yang baik, karena etika dalam berbisnis itu dapat membentuk nilai atau norma karyawan serta pimpinan dalam membangun hubungan yang baik dengan para pelanggan serta masyarakat. Sebab etika dalam berbisnis merupakan sebuah kunci yang dapat membuat mereka mencapai tujuan dengan cara yang benar.
Berikut beberapa contoh etika dalam berbisnis:
- Jujur
- Integritas
- Menepati Janji
- Bertanggung jawab
- Loyalitas
- Peduli
- Memiliki jiwa kepemimpinan
- Patuh terhadap hukum
2. Karena untuk saat ini di negara Indonesia sedang terjadi penyebaran virus Corona (Covid-19) dimana virus tersebut dapat menyebabkaan kematian. Oleh karena itu, pemerintah berupaya untuk menerapkan sistem Work From Home (WFH) pada beberapa perusahaan saja, sehingga upaya tersebut dapet meminalisir penyebaran virus tersebut.
Tapi hal tersebut hanya terjadi di sebuah perusahaan saja. Sedangkan untuk orang yang bekerja di pabrik, tidak bisa menerapkan sistem Work From Home (WFH) karena mereka bekerjanya langsung terjun ke tempat produksinya. Sehingga banyak beberapa orang yang bekerja di pabrik harus di pulangkan (PHK) karena pabrik tersebut mengalami kerugian atau penurunan pendapatan secara drastis yang diakibatkan oleh virus tersebut.
Akhirnya orang yang di pulang kan tersebut harus memutar otaknya agar mereka bisa bertahan hidup di masa pandemic ini. Salah satu kegiatan yang dapat mereka lakukan adalah dengan berbisnis online, mengapa? Karena dengan kita memulai berbisnis online, kita bisa mencukupi kebutuhan sehari-hari kita selama pandemic ini.
Setelah itu, kita bisa melakukan promosi dengan berbagai cara salah satunya memanfaatkan teknologi canggih yaitu Internet, karena Internet dapat menciptakan lingkungan bisnis yang tidak lagi mementingkan waktu dan jarak. Sehingga orang memiliki akses untuk mendapat lebih banyak informasi yang bisa membantu mereka membuat keputusan, dan konsumen memiliki akses untuk mengetahui produk dan layanan yang lebih luas jangkauannya.
Bisnis secara online disaat seperti ini memang jadi jalan terbaik yang bisa kita pilih untuk menambah pemasukan. Walaupun untuk memulai bisnis online memang sangat ketat, bukan berarti kita tidak bisa mencoba untuk memulai bisnis online. Untuk menghindari kebangkrutan dalam berbisniss online kita harus lebih kreativitas lagi dalam mengelolanya, agar kita bisa menarik perhatian konsumen. Sehingga para konsumen merasa tertarik, dan pada akhirnya para konsumen pun membelinya.
3. Menurut saya tidak relevan, karena selama pandemic ini berlangsung, masalah sosial ekonomi sering terjadi dan dampaknya langsung terasa oleh masyarakat, baik masyarakat menengah ke bawah hingga menengah ke atas/ kalangan elit.
Masalah sosial sendiri merupakan suatu ketidaksesuaian antara unsur-unsur kebudayaan atau masyarakat yang membahayakan kehidupan kelompok sosial atau menghambat terpenuhinya keinginan-keinginan pokok warga kelompok sosial tersebut sehingga menyebabkan kepincangan ikatan sosial (Soekanto, 2013). Masalah sosial timbul dari kekurangan-kekurangan dalam diri manusia atau kelompok sosial yang bersumber pada faktor-faktor ekonomis, biologis, biopsikologis, dan kebudayaan. Semakin hari permasalahan sosial ekonomi yang ditimbulkan akibat Covid-19 semakin terlihat nyata bagi masyarakat. Beberapa masalah sosial ekonomi yang terjadi akibat Covid-19 diantaranya :
1. Kelangkaan Barang
Sejak jumlah korban Covid-19 terus meningkat di Indonesia , beberapa barang menjadi langka di pasaran . Bukan hanya langka namun barang tersebut dijual berkali-kali lipat dari harga semula sebelum adanya kasus Corona di Indonesia . Hal ini sesuai dengan hukum ekonomi dimana permintaan meningkat namun barang semakin menipis, maka harga akan semakin meningkat .
Bahkan masyarakat dengan kondisi ekonomi menengah keatas ada kecenderungan memborong barang-barang tersebut sehingga adanya penumpukan barang bagi masyarakat menengah ke bawah justru tidak bisa mendapatkannya. Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance Enny Sri Hartanti mengatakan bahwa perilaku panic buying yang disebabkan oleh faktor psikologis yang terjadi akibat informasi tidak sempurna atau menyeluruh yang diterima oleh masyarakat .
2. Disorganisasi dan difungsi sosial
Jika mengamati berita yang beredar belakangan ini, ada fakta sosial menarik yang terjadi di masyarakat. Prasangka dan diskriminasi ini merupakan perwujudan dan disorganisasi sosial. Kasus Covid-19 ini bukan hanya menyebabkan disorganisasi sosial, namun juga menyebabkan disfungsi sosial. Disfungsi sosial terjadi ketika seseorang tidak mampu menjalankan fungsi sosial yang sesuai dengan status sosial akibat rasa takut terhadap Covid-19.Contoh nyata disfungsi sosial dapat terlihat pada sikap masyarakat yang mulai membatasi jarak dengan orang lain serta tidak mau menolong orang lain karena khawatir terkena Covid-19.
Disfungsi sosial ini membuat individu justru mengalami gangguan pada kesehatannya. Dalam perspektif sosiologi kesehatan, seseorang disebut sehat jika kondisi fisik, mental, spritual maupun sosial dapat membuat individu tersebut menjalankan fungsi sosialnya. Dalam kasus Covid-19, sakit yang dimaksud adalah sakit secara sosial.Menurut Talcott Parsons dalam bukunya «The Social System», sakit bukan hanya kondisi biologis saja, tetapi juga peran sosial yang tidak berfungsi dengan baik. Disorganisasi dan disfungsi sosial inilah yang merupakan wujud nyata dari sakit secara sosial.
3. Tindakan Kriminal
Masalah Covid-19 juga dikhawatirkan berdampak pada peningkatan tindakan kriminal. Tindakan kriminal yang dilakukan bisa beragam seperti pencurian alat plindung diri (APD) yang saat ini sangat langka, pembuatan handsanitizer atau desinfektan palsu yang justru dapat membahayakan kesehatan, penipuan harga bahan pokok, dll. Tindakan kriminal yang lebih besar lainnya seperti perampokan, pembunuhan, dan mungkin bisa terjadi jika situasi semakin tidak terkendali.
4. Melemahnya sektor pariwisata
Sektor pariwisata merupakan salah satu sektor yang berkontribusi besar bagi pendapatan daerah maupun bagi peningkatan lapangan kerja bagi masyarakat. Namun sejak kasus Covid-19 meningkat, berbagai tempat wisata harus ditutup dalam waktu yang belum ditentukan demi mencegah penyebaran Corona. Bagi daerah yang mengandalkan sektor pariwisata sebagai penyumbang pendapatan daerah terbesar maka harus waspada dengan penurunan pendapatan daerah akibat ditutupnya tempat-tempat wisata
5. Angka kemiskinan dan pengangguran meningkat
Sejak pemerintah menerapkan berbagai kebijakan seperti Work From Home, pembatasan wilayah, dan penutupan berbagai tempat publik seperti tempat wisata, banyak perusahaan atau perkantoran yang meliburkan pegawainya. Para pengusaha UMKM juga bahkan ada yang memutihkan karyawan sebagai antisipasi dampak penutupan usaha dalam waktu yang belum ditentukan. Para pekerja informal yang biasanya mendapatkan pendapatan harian kini kesulitan untuk memenuhi kebutuhannya.
Mereka adalah pekerja warung, toko kecil, pedagang asongan, pedagang di pasar, pengendara ojek online, hingga pekerja lain yang menggantungkan hidup dari pendapatan harian termasuk di pusat-pusat perbelanjaan.Selama delapan hari terakhir, tercatat 876 armada bus antar provinsi yang membawa kurang lebih 14.000 penumpang dari Jabodetabek, menuju Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur dan Yogyakarta.
Sebagian besar dari mereka adalah pekerja informal yang mencari nafkah di ibu kota . Ironisnya sebagian besar dari golongan ini bekerja di sektor informal, khususnya yang mengandalkan upah harian. Akibatnya, golongan rentan miskin dan hampir miskin yang bekerja di sektor informal dan mengandalkan upah harian akan sangat mudah kehilangan mata pencaharian dan jatuh ke bawah garis kemiskinan.
Referensi :
http://puspensos.kemsos.go.id/menganalisa-masalah-sosial-ekonomi-masyarakat-terdampak-covid-19

Tidak ada komentar:
Posting Komentar